
Karawang — Insiden yang terjadi di PT TJ Forge Plant 2, Kawasan Industri Internasional Karawang (KIIC), Senin (8/12/2025), tidak dapat dilepaskan dari dinamika bisnis pengelolaan limbah yang memicu kekecewaan pihak-pihak yang kalah dalam proses tender. Fakta ini menjadi konteks penting yang luput dalam video viral yang belakangan justru menggiring opini seolah-olah TNI membekingi perusahaan.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, aksi massa yang memblokade akses pabrik dipicu oleh ketidakpuasan terhadap hasil tender pengelolaan limbah di PT TJ Forge Plant 2. Kekecewaan tersebut kemudian bermuara pada pengerahan massa, termasuk unsur ormas, untuk menekan operasional perusahaan melalui aksi blokade dan demonstrasi.
Di tengah situasi tersebut, Mayor Inf Abner Harkyes Lobiwa berada di lokasi semata-mata untuk kepentingan pribadi, yakni menemui anggota keluarganya yang berkaitan dengan aktivitas pengangkutan limbah. Kehadirannya tidak dalam kapasitas kedinasan, apalagi sebagai representasi institusi TNI. Namun, adu argumen spontan dengan pengunjuk rasa terjadi akibat situasi lapangan yang telah memanas sejak awal.
Penting ditegaskan, tidak terdapat tindakan kekerasan, intimidasi bersenjata, maupun penggunaan kewenangan militer oleh Mayor Abner. Justru ketika situasi berpotensi semakin tidak terkendali, Polisi Militer TNI AD bergerak cepat mengamankan yang bersangkutan dari lokasi sebagai langkah preventif untuk meredam eskalasi.
Mediasi kemudian dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak pabrik, perwakilan pengunjuk rasa, Danramil Teluk Jambe, serta unsur intelijen Polres Karawang. Dalam forum tersebut, Mayor Abner secara ksatria menyampaikan permohonan maaf kepada massa aksi, sebuah sikap yang menunjukkan tanggung jawab personal dan kedewasaan sebagai prajurit.
Selanjutnya, Mayor Abner dibawa ke Subdenpom Karawang untuk dimintai keterangan. Hasil pemeriksaan menyimpulkan tidak adanya unsur tindak pidana dalam kejadian tersebut. Fakta ini sekaligus membantah tudingan bahwa TNI melakukan pembelaan institusional atau perlindungan terhadap kepentingan bisnis tertentu.
Narasi yang beredar di media sosial, dengan menonjolkan potongan video tanpa konteks, dinilai telah mengaburkan akar persoalan yang sesungguhnya: konflik kepentingan pascatender limbah dan mobilisasi massa sebagai alat tekanan. Dalam pusaran konflik tersebut, nama TNI justru terseret dan disudutkan secara tidak proporsional.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik industri di kawasan strategis seperti KIIC kerap dimanfaatkan oleh kelompok berkepentingan untuk membangun framing publik. Di sisi lain, TNI tetap menunjukkan sikap profesional dengan menegakkan disiplin internal, menjaga netralitas, dan tidak mentolerir tindakan anggotanya yang berpotensi menimbulkan salah tafsir di ruang publik.
Publik diharapkan lebih jernih membaca konteks dan tidak terjebak pada narasi viral yang simplistik. Fakta lapangan menunjukkan, insiden di PT TJ Forge Plant 2 bukan soal “beking perusahaan”, melainkan cermin dari kompleksitas konflik bisnis, aksi massa, dan tantangan disinformasi di era digital.