Eskalasi Gerakan Buruh: Protes UMSK 2026 dan Pecahnya Kekuatan Massa di Bandung-Jakarta

BANDUNG – Gelombang protes buruh di penghujung tahun 2025 dipastikan meningkat. Rangkaian komunikasi intensif antar-pimpinan serikat buruh pada 28 Desember 2025 mengonfirmasi rencana aksi besar yang akan berfokus di dua titik utama: Gedung Sate, Bandung pada 29 Desember, dan kawasan Istana Negara, Jakarta pada 30 Desember 2025.
Isu Utama: Sengketa UMSK dan Rekomendasi Daerah
Pemicu utama aksi ini adalah penolakan terhadap penetapan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) 2026. Para buruh menilai keputusan akhir pemerintah provinsi tidak sejalan dengan rekomendasi yang telah diajukan oleh para Bupati/Wali Kota serta hasil dialog tripartit di tingkat daerah.
Ketua DPD SBSI 92 Jabar yang juga menjabat Sekjen KBMI, Sdr. Ajat Sudrajat, menyatakan bahwa aksi di Bandung diperkirakan akan mengerahkan sekitar 1.000 massa. Namun, ia menekankan bahwa rencana keberangkatan massa ke Jakarta bersifat kondisional.
“Apabila Gubernur Jawa Barat bersedia melakukan revisi terhadap SK UMSK 2026 sesuai tuntutan, maka aksi ke Jakarta berpotensi besar dibatalkan,” ujar Ajat dalam keterangannya.
Polarisasi Kekuatan Buruh
Meskipun Ketua SPN, Iwan Sukmawan, menyebut ini sebagai aksi nasional yang menggabungkan massa Jabar dan DKI Jakarta, fakta di lapangan menunjukkan adanya pembelahan kekuatan.
Berdasarkan keterangan dari Presiden KBMI, Daeng Wahidin, kelompoknya bersama Jumhur Hidayat (KSPSI) memilih untuk tetap fokus pada pergerakan di Bandung dan tidak ikut serta ke Jakarta. Hal ini menciptakan dua poros kekuatan:
- Poros Jakarta: Dipimpin oleh kelompok Said Iqbal.
- Poros Jawa Barat: Dipimpin oleh kelompok KBMI dan Jumhur Hidayat.
Respons Aparat dan Potensi Politisasi
Pihak Polda Metro Jaya menyatakan tidak melarang aksi tersebut sejauh berlangsung tertib dan non-anarkis. Namun, aparat menegaskan bahwa aksi massa tidak menjadi jaminan akan adanya perubahan otomatis pada keputusan pengupahan yang telah ditetapkan secara legal oleh pemerintah.
Di sisi lain, situasi internal buruh mulai diwarnai isu miring. Teridentifikasi adanya narasi mengenai dugaan keterlibatan aktor birokrasi daerah dan kepentingan politik tertentu yang dituding memperkeruh suasana pengupahan di Jawa Barat. Isu buruh di akhir tahun ini disinyalir tengah dimanfaatkan sebagai momentum pencitraan politik oleh tokoh-tokoh tertentu menjelang agenda politik mendatang.
Poin Penting Situasi Lapangan:
29 Desember: Fokus massa (±1.000 orang) di Gedung Sate, Bandung.
30 Desember: Rencana aksi di Istana Negara (Kondisional bagi buruh Jabar).
Tuntutan: Revisi SK UMSK 2026 sesuai rekomendasi Bupati/Wali Kota.Kondisi: Kekuatan massa terbagi antara dua kepemimpinan besar (Said Iqbal vs Jumhur/KBMI).