
Rencana demonstrasi buruh pada 8 Januari 2026 yang kembali digalang Said Iqbal menegaskan satu hal: gerakan buruh Indonesia masih terjebak pada pola lama, dengan figur yang sama dan strategi yang nyaris tak pernah berubah. Di tengah perubahan besar dunia kerja, Said Iqbal justru kembali menawarkan resep usang—mobilisasi massa dan tekanan jalanan—seolah itulah satu-satunya cara memperjuangkan nasib buruh.
Said Iqbal bukan tokoh baru. Selama bertahun-tahun ia tampil sebagai wajah utama gerakan buruh nasional. Namun, justru karena lamanya berada di panggung publik, publik berhak bertanya secara kritis: apa capaian struktural yang benar-benar bertahan dari strategi demonstrasi yang terus diulang? Jika aksi jalanan adalah solusi efektif, mengapa persoalan klasik buruh—upah layak, kepastian kerja, dan perlindungan sosial—terus berulang tanpa terobosan berarti?
Demonstrasi yang dipimpin Said Iqbal kerap dikemas sebagai simbol perlawanan rakyat kecil. Namun, simbolisme ini sering kali lebih menguntungkan figur pemimpinnya daripada buruh itu sendiri. Setiap aksi besar selalu mengukuhkan posisi Said Iqbal sebagai juru bicara tunggal buruh, sementara jutaan buruh di lapangan tetap bergulat dengan masalah yang sama. Politik jalanan pun berubah menjadi panggung personal, bukan instrumen perubahan kebijakan yang efektif.
Lebih problematis lagi, Said Iqbal kerap memosisikan diri sebagai oposisi permanen terhadap pemerintah, siapa pun yang berkuasa. Sikap ini mungkin terdengar heroik, tetapi secara strategis justru merugikan buruh. Ketika ruang dialog, mekanisme judicial review, dan kanal legislasi tersedia, pilihan untuk terus mengedepankan konfrontasi menunjukkan kemiskinan strategi, bukan keteguhan prinsip.
Dampak demonstrasi besar juga tidak bisa diabaikan. Gangguan aktivitas publik, tekanan terhadap dunia usaha, dan ketidakpastian ekonomi sering kali menjadi efek samping yang nyata. Ironisnya, buruh sektor informal, pekerja harian, dan UMKM—yang bukan bagian dari elite serikat—justru paling merasakan dampaknya. Namun, suara mereka jarang terdengar dalam narasi besar yang dibangun Said Iqbal.
Di era disrupsi teknologi, otomatisasi, dan ekonomi digital, tantangan buruh jauh lebih kompleks daripada sekadar isu upah tahunan. Dunia kerja berubah cepat, tetapi kepemimpinan buruh ala Said Iqbal tetap stagnan. Alih-alih mendorong peningkatan keterampilan, adaptasi industri, dan perundingan berbasis data, yang ditawarkan kembali adalah demonstrasi massal—strategi abad lalu untuk masalah abad ini.
Buruh Indonesia tidak kekurangan keberanian. Yang mulai langka adalah kepemimpinan yang visioner. Gerakan buruh membutuhkan figur yang mampu bernegosiasi keras di ruang kebijakan, bukan hanya berteriak lantang di jalanan. Selama Said Iqbal terus menjadikan demonstrasi sebagai panggung utama, sulit berharap lahirnya terobosan substantif bagi masa depan buruh. Pada akhirnya, kritik terhadap Said Iqbal bukan penolakan terhadap hak buruh untuk bersuara. Ini adalah seruan agar gerakan buruh keluar dari bayang-bayang satu figur dan satu metode. Jika tidak, demonstrasi 8 Januari 2026 hanya akan menjadi episode lain dari siklus lama: ramai di jalan, sunyi dalam perubahan.