
Venezuela selama bertahun-tahun menjadi sorotan dunia akibat krisis ekonomi, lemahnya institusi negara, serta tekanan internasional berupa sanksi dan isolasi diplomatik. Dalam konteks ini, para analis kerap menggunakan skenario ekstrem untuk mengukur risiko politik.
Presiden Nicolás Maduro merupakan figur yang sangat terpolarisasi. Pendukungnya memandang Maduro sebagai simbol perlawanan terhadap intervensi asing, sementara para pengkritik menuding pemerintahannya bersifat otoriter dan melanggar hak asasi manusia—tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh pemerintah Venezuela.
Dalam simulasi politik, penangkapan presiden yang sedang menjabat hanya mungkin terjadi jika sejumlah kondisi luar biasa terpenuhi secara bersamaan, antara lain:
Perpecahan serius di tubuh militer atau aparat keamanan,
Munculnya otoritas transisi yang diakui oleh sebagian institusi negara,
Tekanan politik domestik yang disertai pembelotan elite,
Tekanan diplomatik internasional yang intens dan berkelanjutan.
Tanpa kombinasi faktor-faktor tersebut, skenario ini dinilai sangat kecil kemungkinannya.
Dalam simulasi penangkapan presiden, dampak awal yang diperkirakan muncul antara lain:
Kekosongan kekuasaan di tingkat eksekutif,
Reaksi publik yang terbelah tajam antara pendukung dan oposisi,
Risiko kerusuhan sipil dan kekerasan politik,
Langkah darurat negara untuk menjaga stabilitas.
Pasar global, khususnya sektor energi, juga diperkirakan bereaksi signifikan mengingat posisi strategis Venezuela sebagai negara dengan cadangan minyak besar.
Respons dunia internasional dalam skenario ini kemungkinan besar terbelah. Sebagian negara mungkin melihat penangkapan sebagai peluang transisi politik, sementara negara lain mengecamnya sebagai tindakan inkonstitusional atau kudeta terselubung. Organisasi internasional seperti United Nations hampir pasti menyerukan penahanan diri, dialog politik, dan penyelesaian damai sesuai hukum internasional.
Dari sisi hukum, legitimasi penangkapan presiden akan sangat bergantung pada prosedur konstitusional—sebuah aspek yang selama ini justru menjadi titik sengketa utama dalam politik Venezuela.
Sejarah menunjukkan bahwa penyingkiran pemimpin di tengah krisis jarang membawa stabilitas cepat. Justru, hal tersebut sering membuka babak baru ketidakpastian. Tanpa kerangka transisi yang jelas dan diterima luas, Venezuela berisiko menghadapi fragmentasi politik, kelumpuhan institusi, bahkan konflik internal yang lebih dalam. Skenario penangkapan presiden Venezuela dalam simulasi politik ini menegaskan satu pelajaran penting: krisis politik tidak otomatis berakhir dengan penahanan seorang pemimpin. Dalam dunia nyata, jalan keluar Venezuela tetap bertumpu pada dialog politik, pemulihan ekonomi, serta penguatan institusi negara.