
Jakarta — Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) tengah menghadapi situasi serius menyusul perselisihan internal yang semakin tajam antara dua tokoh utama organisasi, yakni Sdr. Suparno dan H. Abdul Bais, yang sama-sama bersaing memperebutkan kursi Presiden/Ketua Umum FSPMI.
Suparno yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD FSPMI Jawa Barat disebut mendapat dukungan dari kepengurusan lama FSPMI untuk maju sebagai Presiden/Ketua Umum. Sementara itu, H. Abdul Bais, selaku Ketua Umum PUK PT Epson Indonesia, diarahkan untuk menempati posisi Sekretaris Jenderal.
Namun, skema tersebut justru memicu penolakan keras dari pihak H. Abdul Bais.
Klaim Massa Jadi Sumber Ketegangan
H. Abdul Bais menyatakan keberatan atas dukungan struktural yang diberikan kepada Suparno. Ia menilai dirinya memiliki basis massa yang jauh lebih besar, sehingga merasa lebih layak menduduki jabatan Presiden FSPMI.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi titik awal memburuknya hubungan internal, karena masing-masing pihak sama-sama mengklaim legitimasi kepemimpinan.
Kondisi ini membuat konsolidasi organisasi di sejumlah wilayah mulai terganggu. Beberapa pengurus dan anggota dilaporkan mulai terbelah dalam menentukan arah dukungan, baik kepada kubu Suparno maupun kubu H. Abdul Bais.
Dualisme Kepemimpinan Mulai Terlihat
Sumber internal menyebutkan bahwa dinamika yang awalnya bersifat komunikasi internal kini telah berkembang menjadi potensi dualisme kepemimpinan. Ketegangan tidak hanya terjadi di tingkat pusat, tetapi mulai merembet ke daerah dan tingkat perusahaan.
“Situasinya sudah tidak sekadar beda pendapat. Ini sudah mengarah pada perpecahan kubu,” ungkap salah satu kader senior FSPMI.
Jika tidak segera diselesaikan, konflik ini dikhawatirkan dapat memunculkan dua poros kekuatan dalam tubuh FSPMI yang sama-sama mengklaim keabsahan kepemimpinan.
Ancaman Terhadap Soliditas Gerakan Buruh
Perpecahan internal FSPMI dinilai berpotensi melemahkan kekuatan gerakan buruh nasional. Di tengah berbagai agenda strategis ketenagakerjaan, konflik kepemimpinan justru dinilai dapat mengalihkan fokus perjuangan dari kepentingan pekerja.
Pengamat ketenagakerjaan menilai bahwa konflik yang berlarut-larut akan berdampak langsung pada stabilitas organisasi dan daya tawar buruh terhadap pemerintah maupun pengusaha.
“Jika elit organisasi terus bersitegang, maka yang dirugikan adalah anggota di akar rumput,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari Dewan Pimpinan Pusat FSPMI terkait mekanisme penyelesaian konflik maupun penegasan arah kepemimpinan ke depan. Situasi ini menempatkan FSPMI pada fase krusial, di mana perselisihan internal berpotensi berkembang menjadi perpecahan terbuka apabila tidak segera disikapi secara tegas dan menyeluruh.