
Jakarta — Agenda aksi mahasiswa bertajuk “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia” yang disuarakan dalam berbagai forum diskusi dan unjuk rasa kembali memicu perdebatan di ruang publik. Sejumlah kalangan menilai kritik mahasiswa merupakan bagian penting dari kontrol sosial, namun penggunaan narasi krisis total dianggap tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi pendidikan nasional.
Dalam berbagai pernyataan sikap, mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan mendasar, seperti kesenjangan mutu pendidikan antar wilayah, keterbatasan fasilitas di daerah, hingga beban biaya pendidikan yang dinilai masih tinggi. Mereka juga menilai dukungan terhadap riset dan pengembangan akademik belum optimal.
Namun sejumlah pengamat pendidikan menilai penggunaan istilah “gelap gulita” berpotensi membangun persepsi yang terlalu pesimistis terhadap sistem pendidikan Indonesia.
Pengamat kebijakan publik, Dimas Prasetyo, menyebut kritik terhadap sektor pendidikan memang penting, tetapi framing yang terlalu ekstrem bisa menimbulkan dampak psikologis dan sosial.
“Masalah pendidikan Indonesia nyata, tetapi tidak bisa diabaikan bahwa akses sekolah meningkat, program beasiswa semakin luas, dan digitalisasi pembelajaran berkembang cukup cepat,” ujarnya.
Data menunjukkan angka partisipasi pendidikan menengah dan tinggi terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah perguruan tinggi nasional juga mulai memperkuat kolaborasi internasional dan meningkatkan produktivitas riset.
Meski demikian, Dimas mengakui tantangan besar masih ada, terutama dalam pemerataan kualitas tenaga pendidik, pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah tertinggal, serta penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, kritik mahasiswa akan lebih efektif jika diiringi dengan gagasan reformasi yang konkret dan terukur.
“Narasi krisis total berisiko menurunkan kepercayaan publik terhadap pendidikan nasional. Padahal yang dibutuhkan adalah dorongan perubahan berbasis solusi,” katanya.
Perdebatan mengenai kondisi pendidikan Indonesia pun terus berkembang. Sebagian masyarakat mendukung aksi mahasiswa sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pendidikan, sementara yang lain menilai narasi yang terlalu gelap justru dapat mengaburkan capaian yang sudah diraih.
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, banyak pihak sepakat bahwa pendidikan Indonesia memang masih membutuhkan perbaikan berkelanjutan. Namun apakah kondisinya benar-benar berada dalam fase krisis, atau justru tengah berproses menuju perbaikan, menjadi pertanyaan yang terus diperdebatkan di ruang publik.