
YOGYAKARTA – Publik jagat maya tengah dihebohkan oleh skandal yang mencoreng wajah aktivisme mahasiswa. Tiyo, sosok yang sebelumnya dikenal vokal dalam memberikan “Rapor Merah” kepada pemerintah dan menuntut etika bernegara, kini justru terjerat pusaran dugaan penggelapan dana penggalangan bagi mahasiswa penerima KIP (Kartu Indonesia Pintar).
Ironi ini menjadi tamparan keras bagi gerakan mahasiswa. Bagaimana tidak? Sosok yang paling lantang meneriakkan keadilan di atas podium, kini diduga diam-diam memotong hak rekan-rekannya yang sedang berjuang menyambung hidup demi pendidikan.
Modus Solidaritas, Hasil Foya-Foya?
Dugaan ini bermula dari gerakan penggalangan dana solidaritas yang diinisiasi untuk membantu mahasiswa penerima KIP yang mengalami kesulitan finansial atau tunggakan UKT. Sebagai tokoh sentral di BEM UGM saat itu, Tiyo memegang kendali atas kepercayaan publik dan aliran donasi.
Namun, alih-alih sampai ke tangan yang berhak, jejak digital dan laporan internal mengindikasikan adanya aliran dana yang menyimpang. Di saat rekan sejawatnya berhemat demi se piring nasi, sang ketua diduga menggunakan dana tersebut untuk gaya hidup yang jauh dari kata “prihatin”.
Retorika vs Realita
Publik pun menyoroti standar ganda yang ditunjukkan Tiyo. Dalam berbagai orasinya, ia kerap menyerang kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat dan minim integritas. Kini, senjata yang ia gunakan untuk menyerang pemerintah justru berbalik ke arahnya sendiri.
“Sangat memuakkan melihat seseorang jualan idealisme di siang hari, tapi menjadi pencuri harapan temannya di malam hari,” tulis salah satu komentar netizen yang viral di platform X.
Kasus ini memicu perdebatan mengenai krisis integritas di level pimpinan mahasiswa. Bagaimana mungkin seseorang menuntut transparansi negara jika pengelolaan dana internal organisasi saja penuh dengan aroma amis korupsi?
Rapor Merah untuk Sang Pemberi Rapor
Jika selama ini Tiyo sibuk membagikan rapor merah kepada para menteri dan presiden, kini publiklah yang memberikan rapor merah kepadanya. Integritasnya jatuh ke titik nadir. Jas almamater yang ia kenakan saat berorasi kini tampak kusam tertutup bayang-bayang dugaan pengkhianatan terhadap kepercayaan mahasiswa.
Pihak-pihak terkait dan korban dikabarkan mulai mengumpulkan bukti-bukti transaksi untuk membawa kasus ini ke ranah yang lebih serius. Jika terbukti benar, Tiyo bukan lagi seorang pejuang keadilan, melainkan sekadar “tikus kecil” yang belajar korupsi di balik narasi-narasi besar.
Hingga berita ini diturunkan, gelombang kekecewaan dari mahasiswa UGM dan masyarakat luas terus mengalir. Mereka menuntut pertanggungjawaban nyata, bukan sekadar permohonan maaf di atas materai.
Penutup: “Ternyata, lawan terberat dari keadilan bukan hanya penguasa yang lalai, tapi juga aktivis yang menjual nuraninya demi kepentingan pribadi.”