
JAKARTA — Memasuki September, publik kembali dihadapkan pada berbagai unggahan yang mengangkat istilah “September Hitam”. Narasi tersebut berkaitan dengan sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.
Namun, di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat perlu membedakan antara upaya mengenang dan mendiskusikan peristiwa sejarah dengan konten yang sengaja dimanipulasi untuk memancing kemarahan, menyebarkan informasi menyesatkan, atau mendorong tindakan provokatif.
Karena itu, sikap kritis menjadi penting: jangan terprovokasi, cek fakta, dan pahami konteks sebelum membagikan informasi.
Apa Itu “September Hitam”?
Istilah “September Hitam” digunakan oleh sejumlah kelompok masyarakat sipil dan aktivis HAM untuk mengingat berbagai peristiwa kekerasan, pelanggaran HAM, serta persoalan demokrasi yang terjadi pada bulan September dalam periode sejarah yang berbeda.
Sejumlah peristiwa yang kerap dikaitkan dengan momentum tersebut antara lain Peristiwa Tanjung Priok 1984, Semanggi II pada 1999, pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004, serta berbagai peristiwa lain yang menjadi perhatian masyarakat sipil.
Peringatan dan pembahasan terhadap peristiwa-peristiwa tersebut merupakan bagian dari ruang demokrasi. Kritik, diskusi publik, penyampaian aspirasi, dan tuntutan penyelesaian kasus HAM juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan demokratis sepanjang dilakukan secara damai dan sesuai hukum.
Waspadai Manipulasi Isu di Media Sosial
Persoalan muncul ketika isu sensitif tersebut dimanfaatkan oleh pihak tertentu melalui informasi yang tidak terverifikasi.
Manipulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mengunggah kembali video lama seolah-olah merupakan kejadian terbaru, memotong pernyataan sehingga kehilangan konteks, menggunakan judul provokatif, menyebarkan poster tanpa sumber jelas, hingga membangun narasi bahwa suatu kondisi telah terjadi secara luas padahal faktanya belum terkonfirmasi.
Konten seperti ini berpotensi menyebar cepat karena memainkan emosi pengguna media sosial.
Semakin kontroversial sebuah unggahan, semakin besar kemungkinan masyarakat bereaksi dan membagikannya tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Jangan Samakan Kritik dengan Provokasi
Masyarakat juga perlu berhati-hati agar kewaspadaan terhadap manipulasi informasi tidak berubah menjadi pelabelan terhadap seluruh kritik atau gerakan masyarakat sebagai ancaman.
Kritik terhadap pemerintah, diskusi HAM, aksi mahasiswa, maupun penyampaian pendapat secara damai merupakan bagian dari ruang demokrasi.
Yang perlu diwaspadai adalah informasi palsu, manipulasi fakta, hasutan kekerasan, provokasi, serta konten yang sengaja dirancang untuk memperbesar konflik dan permusuhan.
Dengan demikian, fokus utama bukan pada siapa yang menyampaikan kritik, melainkan pada akurasi informasi dan cara aspirasi tersebut disampaikan.
Kenali Ciri Konten yang Patut Dicurigai
Masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan apabila menemukan unggahan yang menggunakan kalimat sangat emosional seperti “sebarkan sekarang”, “media tidak akan memberitakan ini”, atau klaim keadaan darurat tanpa menyertakan sumber yang dapat diperiksa.
Hal yang sama berlaku terhadap foto maupun video kericuhan yang tidak mencantumkan lokasi dan waktu secara jelas.
Sebuah rekaman yang benar-benar pernah terjadi pun dapat menghasilkan informasi menyesatkan apabila dipindahkan ke konteks waktu, tempat, atau peristiwa yang berbeda.
Karena itu, jangan menjadikan jumlah like, komentar, atau share sebagai ukuran kebenaran sebuah informasi.
Viral tidak selalu berarti benar.
5 Langkah Agar Tidak Mudah Terprovokasi
Sebelum mempercayai atau menyebarkan konten mengenai “September Hitam”, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana:
- Periksa sumber pertama. Cari tahu siapa yang pertama kali menerbitkan informasi tersebut.
- Cek tanggal dan lokasi. Pastikan foto atau video benar-benar berasal dari peristiwa yang sedang dibahas.
- Bandingkan beberapa sumber. Jangan bergantung pada satu akun atau satu potongan video.
- Baca informasi secara utuh. Hindari mengambil kesimpulan hanya berdasarkan judul, poster, atau potongan pernyataan.
- Tahan sebelum membagikan. Jika informasi belum dapat diverifikasi, jangan ikut memperluas penyebarannya.
Ruang Demokrasi Harus Dijaga Bersama
Momentum September seharusnya dapat menjadi ruang untuk mempelajari sejarah, memperkuat penghormatan terhadap HAM, serta membangun demokrasi yang semakin dewasa.
Perbedaan pandangan tidak harus berakhir pada permusuhan. Kritik tidak harus dibalas dengan stigma, sementara kebebasan berpendapat juga tidak seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan kebohongan ataupun menghasut kekerasan.
Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga ruang digital tetap sehat dengan membiasakan diri melakukan verifikasi sebelum bereaksi.
Jangan Terprovokasi, Saring Sebelum Sharing
Di era ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, kemampuan untuk berpikir kritis menjadi benteng pertama menghadapi manipulasi informasi.
Jangan biarkan potongan video, poster anonim, judul provokatif, maupun narasi tanpa sumber menentukan cara kita memahami sebuah peristiwa.
Kenali sejarahnya. Periksa faktanya. Hormati perbedaan pendapat. Tolak provokasi dan kekerasan.
Sebab menjaga demokrasi bukan hanya tentang kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga tentang tanggung jawab dalam menggunakan informasi.