
Papua – Desakan untuk menghentikan pendekatan militer di Papua kembali mencuat setelah sejumlah organisasi masyarakat sipil dan tokoh gereja menyuarakan kritik terhadap kebijakan keamanan pemerintah di wilayah tersebut.
Seruan itu disampaikan oleh Dewan Gereja Papua bersama Koalisi Masyarakat Sipil (KO MASI) yang menilai pendekatan keamanan selama ini dinilai belum mampu menyelesaikan akar persoalan di Papua. Mereka menyoroti berbagai isu mulai dari dugaan pelanggaran hak asasi manusia, konflik bersenjata, hingga persoalan pengelolaan sumber daya alam.
Dalam pernyataan mereka, organisasi tersebut meminta pemerintah untuk mengedepankan dialog damai dengan masyarakat Papua serta mengurangi kehadiran aparat bersenjata di sejumlah wilayah yang dianggap rawan konflik.
Menurut mereka, pendekatan dialog dinilai lebih efektif untuk membangun kepercayaan antara masyarakat Papua dan pemerintah pusat, sekaligus membuka ruang penyelesaian konflik secara damai.
Namun tuntutan tersebut memunculkan perdebatan di ruang publik.
Sejumlah pihak menilai bahwa situasi keamanan di Papua masih belum stabil, terutama karena aktivitas kelompok bersenjata yang dalam beberapa tahun terakhir kerap melakukan serangan terhadap aparat maupun warga sipil.
Beberapa insiden penyerangan terhadap tenaga kesehatan, guru, serta pekerja proyek pembangunan di wilayah pegunungan Papua menjadi sorotan dalam diskusi mengenai pentingnya kehadiran aparat keamanan.
Pengamat keamanan menilai bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi warga sipil dari ancaman kekerasan.
“Keamanan menjadi faktor utama agar aktivitas masyarakat dapat berjalan normal, termasuk pendidikan, layanan kesehatan, dan pembangunan infrastruktur,” ujar salah satu analis keamanan dalam diskusi kebijakan Papua.
Di sisi lain, kalangan masyarakat sipil tetap menekankan bahwa penyelesaian konflik Papua tidak dapat hanya bergantung pada pendekatan keamanan semata.
Mereka menilai perlu adanya langkah komprehensif yang meliputi dialog politik, pembangunan ekonomi, perlindungan hak masyarakat adat, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Pemerintah sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong pembangunan infrastruktur dan program kesejahteraan di Papua, termasuk pembangunan jalan, fasilitas kesehatan, serta peningkatan akses pendidikan.
Perdebatan mengenai pendekatan keamanan dan dialog damai ini menunjukkan bahwa persoalan Papua masih menjadi isu kompleks yang membutuhkan solusi menyeluruh.
Banyak pihak menilai bahwa keseimbangan antara keamanan, pembangunan, dan dialog menjadi kunci penting untuk menciptakan stabilitas dan masa depan damai bagi masyarakat Papua.