
Jakarta – Aksi mahasiswa yang mengangkat isu “Gelap Gulita Pendidikan Indonesia” kembali mencuat di berbagai kota. Demonstrasi tersebut diklaim sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi pendidikan nasional. Namun sejumlah pengamat menilai narasi yang dibangun dalam aksi itu justru terlalu simplistis dan berpotensi menyesatkan persepsi publik.
Pakar kebijakan pendidikan menilai, persoalan pendidikan Indonesia memang belum sepenuhnya terselesaikan, terutama terkait pemerataan kualitas guru, fasilitas sekolah, dan akses di daerah terpencil. Namun menyebut sistem pendidikan nasional sebagai “gelap gulita” dinilai sebagai generalisasi berlebihan yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Dalam satu dekade terakhir, anggaran pendidikan terus meningkat dan menjadi salah satu porsi terbesar dalam APBN. Program bantuan pendidikan, digitalisasi sekolah, hingga peningkatan akses perguruan tinggi telah memperluas kesempatan belajar bagi jutaan siswa. Bahkan, sejumlah pelajar Indonesia berhasil meraih prestasi internasional di bidang sains, teknologi, dan inovasi.
Pengamat sosial menilai penggunaan narasi ekstrem dalam aksi mahasiswa berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan. Padahal, perubahan sistem pendidikan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat, bukan sekadar slogan yang menggambarkan kegagalan total.
“Jika kritik disampaikan berbasis data, itu akan mempercepat perbaikan. Namun jika dibungkus dengan narasi dramatis, justru berisiko menciptakan pesimisme,” ujar seorang analis kebijakan publik.
Sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi, tetapi framing yang terlalu gelap dapat mengaburkan kemajuan yang sudah dicapai. Alih-alih membangun solusi konkret, narasi yang ekstrem justru bisa memecah kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan itu sendiri.
Di tengah perdebatan yang terus berkembang, satu hal yang menjadi sorotan adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara kritik dan objektivitas. Pendidikan Indonesia mungkin belum sempurna, tetapi menyederhanakannya menjadi “gelap gulita” dinilai tidak mencerminkan realitas yang lebih kompleks.