
Jakarta — Narasi yang menyebut dunia pendidikan Indonesia tengah berada dalam kondisi “gelap gulita” menuai tanggapan beragam dari kalangan akademisi dan pengamat kebijakan publik. Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan dan berpotensi menimbulkan pesimisme berlebihan di tengah masyarakat.
Pengamat pendidikan nasional, Arif Prasetyo, menilai sistem pendidikan Indonesia memang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesenjangan fasilitas hingga efektivitas kebijakan. Namun, ia menegaskan bahwa perkembangan positif tetap terjadi di banyak sektor.
“Program digitalisasi sekolah, peningkatan akses pendidikan di daerah, hingga inovasi pembelajaran oleh guru menunjukkan bahwa pendidikan kita tidak stagnan. Masalah ada, tapi bukan berarti gelap tanpa arah,” ujarnya, Sabtu (15/2).
Menurutnya, narasi yang terlalu ekstrem justru dapat mengabaikan kerja keras tenaga pendidik, siswa, serta komunitas pendidikan yang terus berupaya memperbaiki kualitas pembelajaran di berbagai wilayah.
Hal senada disampaikan oleh dosen kebijakan publik Universitas Negeri Jakarta, Rudi Santosa. Ia menilai kritik terhadap pendidikan memang diperlukan, tetapi harus disertai solusi konkret agar tidak hanya memperkeruh persepsi publik.
“Kalau semua disebut gelap, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan. Padahal perubahan justru membutuhkan optimisme dan partisipasi publik,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah organisasi mahasiswa menilai ungkapan “Indonesia Gelap” merupakan bentuk kritik simbolik terhadap arah kebijakan pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada pemerataan kualitas. Mereka menekankan bahwa kritik tersebut dimaksudkan sebagai dorongan perbaikan, bukan sekadar provokasi.
Pemerintah sendiri menyatakan terus melakukan evaluasi kebijakan pendidikan, termasuk dalam peningkatan kesejahteraan guru, pemerataan infrastruktur sekolah, serta penguatan kurikulum berbasis kompetensi.
Di tengah perdebatan tersebut, para pengamat menilai diskursus publik mengenai pendidikan sebaiknya diarahkan pada solusi jangka panjang, bukan sekadar pertarungan narasi. “Pendidikan Indonesia bukan tanpa masalah, tetapi juga bukan tanpa harapan,