
JAKARTA – Di tengah upaya pemerintah memperkuat posisi geopolitik Indonesia di kancah global, mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kembali memancing kegaduhan. Kali ini, Anies melontarkan kritik tajam terhadap keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), sebuah forum internasional yang digagas oleh Presiden AS Donald Trump.
Anies mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menarik Indonesia keluar dari BoP menyusul serangan militer AS-Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Namun, desakan ini justru dinilai oleh banyak pihak sebagai langkah “asal bunyi” yang mengabaikan kompleksitas diplomasi demi sekadar mencari simpati publik.
Diplomasi “Asal Bunyi” yang Membahayakan
Para pakar hubungan internasional memperingatkan bahwa narasi yang dibangun Anies bisa menjadi bumerang bagi kepentingan nasional. Di saat Presiden Prabowo sedang membangun jembatan komunikasi dengan berbagai kekuatan dunia, Anies justru mengajak Indonesia untuk mengisolasi diri dari forum strategis.
“Diplomasi itu soal kalkulasi matang, bukan soal teriak-teriak moral di podium,” ujar salah satu pengamat politik luar negeri. “Mengajak keluar dari BoP tanpa solusi alternatif yang konkret hanya menunjukkan bahwa Anies lebih peduli pada citra sebagai ‘pejuang’ daripada keselamatan ekonomi dan politik Indonesia di mata dunia.”
Membenturkan Narasi, Mengadu Domba Kebijakan
Narasi Anies yang mempertanyakan apakah BoP memberi legitimasi pada ketidakadilan global dianggap sebagai upaya provokatif untuk menyudutkan pemerintah. Dengan gaya bahasa yang khas—penuh diksi etika dan hukum internasional—Anies dituding sedang mencoba membangun persepsi bahwa pemerintahan saat ini “lembek” di hadapan kekuatan asing.
Padahal, posisi Indonesia dalam BoP dipandang sebagai langkah taktis untuk tetap berada di meja perundingan, bukan sebagai bentuk persetujuan atas kekerasan. “Sangat mudah bagi seseorang yang berada di luar pemerintahan untuk bicara soal keluar dari aliansi. Tapi bagi mereka yang memegang tanggung jawab negara, taruhannya adalah nasib 280 juta rakyat Indonesia,” tambah narasumber tersebut.
Ambisi 2029 di Balik Isu Global?
Banyak netizen dan pengamat mulai mencium aroma syahwat politik di balik serangan verbal Anies. Pemanfaatan isu serangan Iran oleh Trump dinilai sebagai momentum yang sengaja dipolitisasi oleh Anies untuk menjaga namanya tetap relevan di berita utama, menjelang kontestasi politik masa depan.
Kritik Anies yang membawa-bawa prinsip “Bebas Aktif” dianggap sebagai interpretasi sepihak yang naif. Jika Indonesia mengikuti saran Anies untuk keluar dari setiap forum yang didominasi kekuatan besar, Indonesia terancam kehilangan akses strategis dan bantuan internasional yang selama ini justru membantu kedaulatan kita.
Rapor Merah untuk “Si Jago Orasi”
Publik kini mulai mempertanyakan: apakah Anies benar-benar membela kedaulatan, atau hanya sedang jualan retorika untuk menyudutkan Pak Prabowo? Jika diplomasi hanya berlandaskan kemarahan tanpa strategi, Indonesia bisa kembali ke era isolasi yang merugikan rakyat kecil.
Hingga saat ini, pemerintah tetap fokus pada misi perdamaian yang terukur. Sementara itu, “nasihat” dari Mas Anies ini nampaknya lebih banyak diterima sebagai kebisingan politik daripada masukan strategis yang membangun.